Dia bernama SUMARIJEM alias SUM KUNING, yang mana kasusnya merupakan salah satu potret paling kelam di dalam sejarah hukum di Indonesia pada masa Orde Baru.
Kasus ini bukan sekadar tragedi pemerkosaan biasa, melainkan simbol dari ketidakadilan, dimana hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Berikut adalah kronologi lengkapnya ;
(1) PERISTIWA PENCULIKAN DAN PEMERKOSAAN (SEPTEMBER 1970)
Tragedi ini menimpa Sumarijem, seorang gadis penjual telur yang berusia 18 tahun asal Godean, Yogyakarta.
Pada tanggal 21 September 1970 petang, saat ia sedang menunggu bus untuk pulang, tiba² sebuah mobil sedan mewah berhenti di dekatnya.
Lalu beberapa pemuda berambut gondrong langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil yang melaju cepat, di sanalah Sumarijem kehilangan kehormatannya setelah dibius lalu diperkosa secara bergiliran oleh para pemuda tersebut.
Dan Setelah melampiaskan aksi bejatnya, lalu para pelaku membuang Sumarijem di pinggir jalan dalam kondisi yang sangat lemah.
Karena dia berkulit putih (kuning langsat), maka media kemudian menjulukinya sebagai "Sum Kuning".
(2) KORBAN MENJADI TERSANGKA
Bukannya mendapat perlindungan hukum, Sum Kuning justru mengalami intimidasi luar biasa dari oknum² kepolisian.
Alih-alih mengejar pelaku, para polisi justru menuduh Sumarijem telah membuat laporan palsu dan dituduh sebagai anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), yaitu organisasi yang saat itu dilarang karena berafiliasi dengan PKI, tujuannya untuk menyudutkannya secara politik.
Ketika itu Sum Kuning dipaksa mengakui bahwa ceritanya hanyalah rekayasa. Bahkan, ia sempat ditahan dan diancam agar tidak menyebutkan keterlibatan "anak-anak pejabat".
(3) KETERLIBATAN "ANAK² PEJABAT" DAN PERHATIAN NASIONAL
Ketika itu masyarakat Yogyakarta dan media massa (terutama harian KAMI dan INDONESIA RAYA) mulai mencium adanya aroma konspirasi.
Sehingga muncul dugaan kuat bahwa para pelakunya adalah anak-anak dari para pejabat tinggi militer di Yogyakarta, dan salah satunya merupakan anak dari seorang Pahlawan Nasional.
Ibaratnya tidak ada asap kalau tidak ada apinya, sehingga tekanan publik begitu besar yang memaksa Kapolri saat itu, Jenderal HOEGENG IMAM SANTOSO untuk turun tangan secara langsung.
Jenderal Hoegeng yang dikenal sangat jujur lalu membentuk tim khusus bernama "TIM PEMERIKSA SUM KUNING" untuk mengusut tuntas kasus ini tanpa pandang bulu.
(4) INTERVENSI KEKUASAAN DAN PENCOPOTAN JENDERAL HOEGENG
Langkah berani pak Hoegeng itu ternyata membentur tembok kekuasaan yang lebih tinggi.
Ketika itu Presiden Soeharto memerintahkan agar kasus ini diambil alih agar ditangani langsung oleh Team Pemeriksa Pusat (KOPKAMTIB) yang merupakan Lembaga Keamanan Nasional pada saat itu.
Tak lama setelah Jenderal Hoegeng mulai serius mengusut keterlibatan anak-anak pejabat dalam kasus Sum Kuning, lalu beliau dipensiunkan dini dari jabatannya sebagai Kapolri pada bulan Oktober 1971.
Dalam kasus ini, banyak pihak yang meyakini bahwa pencopotan Hoegeng adalah cara rezim untuk menghentikan penyelidikan terhadap para pelaku yang sesungguhnya.
(5) "KAMBING HITAM" DI PENGADILAN SETELAH HOEGENG DISINGKIRKAN
Ketika itu skenario hukum mulai berubah, karena aparat kepolisian kemudian menangkap beberapa orang pemuda dari kalangan rakyat biasa (orang-orang kecil) lalu memaksanya untuk mengaku bahwa merekalah yang melakukan pemerkosaan terhadap Sum Kuning.
Di pengadilan, para "pelaku abal²" ini membuat pernyataan yang sangat mengejutkan para hadirin di persidangan, karena mengatakan bahwa ketika di sel tahanan mereka telah disiksa agar mau mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan.
Jaksa menuntut hukuman berat bagi mereka, namun hakim yang menangani kasus ini, yaitu Hakim Ketua BUDHI RAKHMADI melihat banyaknya kejanggalan.
Maka dalam putusannya yang sangat berani, Hakim tersebut membebaskan para terdakwa karena tidak terbukti bersalah, dan menyatakan bahwa Sumarijem adalah korban yang jujur.
(6) AKHIR CERITA
Meskipun Hakim membebaskan para "kambing hitam" tersebut, namun para pelaku aslinya yang merupakan anak-anak pejabat itu tidak pernah tersentuh hukum hingga saat ini.
Sum Kuning sendiri kemudian berusaha menata hidupnya kembali, dan dia sempat bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta berkat bantuan Nyonya Roeslan Abdulgani.
Lalu dia menikah dengan seorang pria bernama MANTHOUS dan memilih menjauh dari sorot media demi ketenangan hidupnya.
(7) KESIMPULAN
Kasus Sum Kuning tetap diingat sebagai monumen kegagalan hukum di Indonesia pada masa lalu, dimana keadilan dikalahkan oleh kekuasaan dan nepotisme.
Kasus ini jugalah yang semakin mengukuhkan nama Jenderal Hoegeng sebagai polisi paling jujur di Indonesia karena keberaniannya membela rakyat kecil meski harus kehilangan jabatannya.
Foto inzet ;
Foto aslinya mbak Sum ini sedang berada di rumah sakit setelah kejadian tersebut, terlihat wajahnya yang innocent, dengan tatapan matanya yang polos, bahkan dia masih bisa tersenyum walaupun badai yang menerpanya sangat dahsyat.
_____________
INFO TENTANG MANTHOUS
_____________
Meskipun namanya terdengar seperti nama orang asing (Barat), Manthous sebenarnya adalah orang Indonesia asli.
Ia bukan warga biasa, melainkan seorang tokoh besar dan legendaris dalam dunia musik tradisional Indonesia.
Berikut adalah profil singkat Manthous ;
(1) PELOPOR CAMPURSARI
Manthous adalah seorang Public Figure (Musisi/Maestro), terlahir dengan nama ANTO SUGIARTONO di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Beliau adalah sosok yang menciptakan dan mempopulerkan aliran musik Campursari.
Ia adalah orang yang pertama kali berinovasi dalam menggabungkan instrumen gamelan Jawa (seperti kendang dan saron) dengan alat musik modern (seperti keyboard, gitar listrik, dan bass).
(2) MUSISI JENIUS
Sebelum terkenal dengan genre Campursari, Manthous adalah musisi yang sangat berbakat. Ia merantau ke Jakarta pada usia muda dan sempat menjadi pemain bas untuk grup-grup besar, termasuk mengiringi penyanyi legendaris seperti BENYAMIN SUEB dan BING SELAMET.
(3) HUBUNGAN DENGAN SUM KUNING
Manthous menikah dengan Sumarijem (Sum Kuning) setelah tragedi yang menimpa Sumarijem sudah mereda.
Bagi Sum Kuning, Manthous adalah sosok pelindung yang menerima dan mencintainya apa adanya, tanpa mempedulikan masa lalu pahit yang pernah ia alami.
Dan mereka membangun hidup yang tenang di Semarang dan memiliki anak.
(4) WARISAN KARYA-KARYANYA
Beberapa lagu ciptaannya yang sangat meledak dan masih sering didengar hingga sekarang antara lain ;
- NYIDAM SARI
- GETUK
- YEN ING TAWANG ONO LINTANG.
Namanya yang terdengar kebarat-baratan itu merupakan nama panggung yang ia gunakan sejak berkarier di Jakarta.
Di mata publik, ia dikenang sebagai "Bapak Campursari", namun di sisi kemanusiaan, ia sangat dihormati karena menjadi pria yang berdiri tegak mendampingi Sum Kuning hingga akhir hayatnya (Manthous wafat pada tahun 2012).
BERAPA ANAK MEREKA ?
Manthous dan Sum Kuning memiliki 3 orang anak.
Setelah menikah, mereka memilih untuk menjauh dari sorot media guna memulihkan trauma dan memberikan kehidupan yang tenang bagi anak-anak mereka.
Sumarijem bahkan sempat mengganti namanya untuk memutus label "Sum Kuning" yang melekat di masyarakat agar anak-anaknya tidak menanggung beban sejarah kelam tersebut di masa depan.
APAKAH SUM KUNING MASIH HIDUP ?
Ya, Sum Kuning (Sumarijem) masih hidup.
Dia lahir sekitar tahun 1952, dan saat ini beliau diperkirakan berusia 73-74 tahun.
Setelah suaminya (Manthous) wafat pada tahun 2012, lalu beliau menjalani masa tuanya dengan tenang dan sangat tertutup dari publik.
Beliau jarang sekali muncul di media karena memang sejak lama ingin menjalani kehidupan sebagai warga biasa tanpa terus-menerus diingatkan pada tragedi tahun 1970 tersebut.
Kisah "Manthous~Sum Kuning" sering dianggap sebagai salah satu bukti kekuatan cinta yang tulus.
Karena disaat hukum dan negara gagal memberikan keadilan bagi Sumarijem, justru Manthous datang sebagai sosok yang tidak hanya memberikan cinta, tetapi juga martabat dan perlindungan hingga akhir hayatnya
SUMARIJEM atau SUM KUNING mengubah namanya menjadi SUMARYANI.
Keputusan untuk berganti nama ini diambil dengan alasan yang sangat personal dan menyentuh, yaitu ;
MENGHAPUS STIGMA
Ia ingin membuang julukan "Sum Kuning" yang diberikan media, karena nama tersebut selalu mengingatkan publik (terhadap dirinya sendiri) pada tragedi pemerkosaan yang dialaminya.
MELINDUNGI ANAK-ANAK
Ia tidak ingin anak-anaknya kelak menanggung beban sosial atau merasa malu karena sejarah kelam yang pernah menimpa ibunya. Dengan nama baru, ia berharap bisa hidup sebagai warga biasa yang tidak dikenal sebagai "korban".
MEMULAI LEMBARAN BARU
Bersama Manthous, nama Sumaryani menjadi simbol kebangkitan dan martabat barunya sebagai seorang istri dan ibu.
Langkah ini terbukti berhasil, karena selama puluhan tahun, ia berhasil hidup tenang di Semarang tanpa gangguan dari pihak-pihak yang ingin mengungkit masa lalunya.
Sehingga pada akhirnya identitas sebagai istri sang Maestro Campursari perlahan mulai diketahui publik kembali setelah anak-anaknya tumbuh dewasa.
